Tuesday, July 9, 2013

Kematian Paman Gober



Hallo Sobat… hari ini saya posting sebuah Cepen yang saya suka, yakni tentang Paman Gober yang kaya raya dan tak tergantikan. Dalam cerpen ini, disajikan tokoh utama bernama  Paman Gober yang kaya raya, tetapi kikir. Dikehidupannya dia bermandikan uang dengan segala kemegahan yang dimilikinya, tanpa berbagi. Semua warga di kota bebek membencinya, sangking bencinya mereka mengharapkan kematian Paman Gober. Tetapi hal itu tak kunjung datang.
Ini dia Cepennya.. (Selamat Membaca)
Kematian Paman Gober
Karya : Seno Gumira Aji Darma

                Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk kota bebek membuka Koran, yang mereka ingin ketahui hanyalah satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati?. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.
                Begitu kayanya paman Gober, sehingga ia tak dapat hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik didepan matanya, ia hamper selalu berkata, “oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir kegudang Paman Gober.
                Meskipun kaya raya, anggota club miylader No. 1., Paman Gober adalh bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal Bebek, ia tidak pernah member bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras---malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwek, dan Kwik, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagsannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling  Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama penemu, dapat ditunggu pun hamper selalu diakalinya.
                Sudah berkali-kali gerombolan siberat tiga serangkai penjahat kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan juga oleh Mimi Hitam, tukang teluh yang suka terbang naik sapu sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut keping keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keeping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak dapat dipungkiri, Paman Gober memang pekerja  keras. Masa mudanya habis di lorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tertandingi dari Kota Bebek.
                Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek sesepuh kota bebek yang mengasingkan diri kesebuah pertanian jauh diluar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi, ia tidak dibenci. Setiap kali ada seseorang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagi orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober dapat menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekali bukan tokoh teladan, tapi mengap ia dapat begitu dicintai?.
                “Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun, Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi memakan roti apel.
                “Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.
                “Memang pasti, tapi kapan?.” Kwak menyahut.
“Kwek!” hanya itu yang dapt dikatakan Kwek. Dasar bebek.
                Begitulah, setiap hari, Lubas, Anjing di rumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.
“Belum mati juga!.”
Donal segera mebuang lagi Koran itu denga kesal. Karena memang tiada lagi cerita yang dibaca dikoran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas bukan media.
                Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan akan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklum, sebagi generasi tua di kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun museum ditempat itu. Jadi, bukannya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah . siap untuk mati.
                “Mestinya, Bebek seumur saya ini, biasanya sudah tahu diri, siap masuk liang kubur. Ketika saya diminta menjadi ketua perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai berapa lama saya dapat bertahan? Apa tidak ada Bebek lain yang mampu jadi ketua? Kalimat semacam ini masuk kedalam buku Otobiografinya, pergulatan bati Gober Bebek, yang jadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hamper setiap Bab dalam buku itu mengisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun Bajak Laut, Pulau Emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul sampai kapan saya berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah Ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain.
                “Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”
Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangganya, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.
                 “Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”
                “Apakah saya tidak punya hak bicara?”
                “Dapat, tapi jangan asal meleter, nanti kamu kusembelih.”
                “Ah, siapa Bebek tidak kalah kejam dari manusia?”
                “Lho, manusia makan bebek, apakan bebek makan manusia?”
                “Yang jelas manusia dapat makan manusia.”
                “Tapi paman mau menyembelih sesame bebek, apakan sudah mau meniru sifat manusia?”
                Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober selalu memelihara musuh-musuh yang tidak pernah dapat mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek-bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.
                “Coba, kalau aku idak membangun jalan, air mancur, dan monument, apakah jadinya Kota Bebek?”
                Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
                “Paman Gober.” Kata Donal suatu hari “mengapa Paman Gober tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti nenek, menyepi dan merenungkan arti hidup, sudah waktunya paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”
….
                Maka hari-haripun berlalu tanpa pergantian pemimpin. Demokratis berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan karena memang hanya da satu pemimpin. Segenap pengurus dapat dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah ditanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota-kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang dapat diganti lagi. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.     
                Dan itulah celakanya---kanak-kanak mencintai Paman Gober riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan,yang mestiya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru paman gober, menjadi bebek sekaya-kayanya, kalau dapat paling kaya di dunia.
                ‘’Paling kaya didunia?” Kwak bertanya.
                “Iya, Paling kaya didunia,” jawab Nenek Bebek.
                “Apakah itu hakikat hidup Bebek?”
                “Bukan, itu adalah hakikat hidup Paman Gober.”

                Sementara itu, nun jauh digudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tidak tergantikkan.
                Semua Bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang dapat dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu setiap kali penduduk kota Bebek membuka Koran, yang ingin mereka ketahui Cuma satu : Apakah hari ini Paman gober sudah mati? Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita kematian Paman Gobe, dihalaman pertama.